VALENTINE'S DAYS
Hari yang ditunggu-tunggu oleh para remaja adalah kedatangan Valentine’s Day yang merupakan hari kasih sayang bagi yang merayakannya, terutama bagi kalangan remaja (muda-mudi) yang begitu antusias dalam menyambut kedatangannya,
Kedatangan Valentine’s Day pada era kontem porer saat ini masih menjadi kebaggaan dan kebaha giaan tersendiri bagi kaum muda-mudi yang mem punyai keyakinan bahwa Valentine’s Day adalah hari di mana mengeksposisikan perasaan terhadap seseorang yang diasumsikan sebagai pasangan nya.
Dalam menyambut kedatangan Valentine’s Day, para remaja kita mulai mempersiapka segala keperluan yang dianggap urgen dalam menyambut dan merayakan kedatangannya sebagai sebuah bentuk aplikasi dalam melengkapi kebahagiaan yang mereka tunggu-tunggu. Banyak dari kala ngan remaja yang berdatangan ke super market atau toko-toko untuk sekedar memenuhi kebutu han yang dianggap esensial dalam memeriahkan Valentine’s Day sebagai hari kasih sayang bagi mereka. Mulai dari parcel, bunga, kado valentine’s, ucapan selamat Valentine’s Day, dan lain seba gainya.
Kalangan remaja, terutama yang ada di perko taan begitu antusias dalam merayakan Valentine’s Day dengan pasangannya. Mereka merayakannya dengan berbagai bentuk cara yang dapat menja dikan hari valentine’snya menjadi kenangan yang tek terlupakan. Bentuk perayaan mereka aplikasi kan dengan eksposisi perasaan “cinta” kepada pasangannya. Mereka menjadikan Valentine’s Day sebagai kesempatan emas untuk paling tidak men dapatkan seseorang yan diidamkannya.
Perayaan valentines bagi kalangan remaja terasa sudah menjadi budaya yang melekat dan inheren di kalangan masyarakat Indonesia pada umumnya. Masyarakat Indonesia (remaja) bera sumsi bahwa Valentine’s Day tidak boleh tidak ha rus dirayakan sebagai bentuk penghormatan ter hadap Valentino yang dipenjarakan dalam sel, disebabkan ia melanggar aturan kerajaan yang melarang tentaranya menikah dengan seorang wanita. Namun Valentino melanggar dan mengabai kan aturan kerajaan tersebut, sehingga kemudian ia dimasukkan ke dalam penjara karena ditemukan sedang memadu kasih dengan seorang wanita yang menjadi kekasihnya.
Kisah kasih yang dialami oleh Valentino dan kekasihnya yang berakhir tragis dan mengenaskan menjadi refleksi bagi masyarakat Romawi pada wak tu itu untuk menetapkan sebagai hari kasih sayang (Valentine’s Day), sebagai bentuk apresiasi menge nang kisah kasihnya yang menyisahkan duka yang mendalam bagi keduanya.
Valentine’s Day yang mempakan kebudayaan barat (west culture) seharusnya tidak dijadikan tradisi bagi kalangan remaja pada khususnya, karena budaya Valentine’s Day yang sudah menga kar erat bagi masyarakat Indonesia tidak sesuai dengan kebudayaan Indonesia yang lebih memen tingkan aspek normatif dalam segala bentuk yang ada. Selain tidak sesuai dengan kebudayaan In donesia, juga bertentangan dengan ajaran agama yang mengajarkan kebaikan kepada umatnya. Aga ma (Islam) mengajarkan kepada umatnya untuk menjauhi perbuatan maksiat yang jelas-jelas akan berimplikasi negatif terhadap privatisasi remaja sebagai generasi penerus bangsa yang menjadi harapan di kemudian hari untuk melanjutkan roda pembangunan dan pemerintahan serta dalam rangka menegakkan Islam di mata dunia.
Perayaan Valentine’s Day di kalangan muda-mudi, pada gilirannya akan berpotensi negatif untuk berbuat sesuatu yang melanggar ajaran agama dan norma masyarakat. Karena kemungki nan besar, mereka akan melakukan hubungan di luar batas kewajaran layaknya suami isteri juga tidak kalah berbahayanya pesta miras dan narkko ba akan menjadi kelengkapan dalam merayaka valentine’s. Semuanya akan berdampak negatif pada kelangsungan hidup dan masa depan genera si muda yang menjadi tonggak kemajuan bang sa ke depan.
Oleh karenanya, marilah kita berpikir, mere nung dan merefleksikan hari valentine’s sebagai hari kasih sayang dalam menjalani kehidupan yang lebih bermanfaat bagi kita dan orang lain. Sebagai generasi muda (remaja), kita hams dapat mengkon templasikan dan mengintemalisasikan makna sub stansial Valentine’s Day yang secara faktual telah keluar dan budaya kita dan ajaran agama pada khususnya. Eksposisi kasih sayang dan cinta tidak hanya diimplementasikan kepada pasangan kita saja, namun eksposisi cinta juga dapat diaktualisa sikan kepada orang tua, saudara, kakek-nenek, dan lain sebagainya.
Sebagai generasi muslim yang mempunyai pedoman hidup (way of life), jangan sampai ter influensi oleh kemeriahan Valentine’s Day yang merupakan kebudayaan orang-orang barat yang secara faktual menyimpan dilema dan ambivalensi bagi keutuhan budaya bangsa yang memuat nilai-nilai universal dalam mengapresiasikan kemanu siaan.
Budaya kita dan ajaran agama tidak mengajar kan kepada masyarakatnya berduaan antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrimnya. Apala gi di tempat sunyi dan sepi yang tidak ada orang-orang melihatnya.
Muda-mudi yang berduaan pada waktu pera yaan Valentine’s Day pada gilirannya akan berpo tensi negatif untuk melaklukan perbuatan di luar kewajaran. Islam mengajarakan kepada kita (umat Islam) untuk menjauhi hal-hal yang sekiranya da pat mengantarkan pada perbauatan zina. Karena godaan syetan yang menjadi musuh besar manusia akan selalu menggoda dan menjerumuskan manusia pada jurang kenistaan dan kehan curan.
Valentine’s Day yang sudah menjadi tradisi di kalangan masyarakat, paling tidak kita dapat me minimalisir perayaan tersebut dalam sebuah kewa jaran yang tidak berlebihan dan juga tidak lepas dari aturan dan ajaran agama. Ucapan “Happy Valentine’s Day” kepada pasangan kita yang meru pakan langkah primordial dalam menyambut keda tangan Valentine’s Day pada gilirannya akan me ngarah pada relasi yang lebih dekat dan bahkan akan menjurus kepada perbuatan di luar batas ke wajaran.
Dalam menyikapi Valentine’s Day di era globa lisasi dan modemisasi saat ini, kita harus berupaya mengintrospeksi diri dalam setiap tindakan yang kita kerjakan. Kalau sekiranya perbuatan (dalam hal ini budaya) tersebut telah keluar dari ajaran agama, maka sebaiknya hal itu dijauhi dan tidak dijadikan tradisi dalam suatu komunitas tertentu.
Oleh karenanya, menyikapi Valentine’s Day dalam konteks kekinian, tidak hanya dijadikan wacana belaka, tetapi yang paling esensial hams diaplikasikan dalam bentuk yang konkrit. Salah satu upaya yang paling fundamental dalam menyikapi perayaan Valentine’s Day di kalangan remaja ada lah dengan meminimalisir kebuadayaan tersebut dalam satu komunitas masyarakat. Dengan upaya tersebut paling tidak generasi muda akan berpikir secara objektif bahwa Valentine’s Day bukan meru paka kebudayaan bangsa Indonesia, ia hanya me rupakan wacana busuk orang-orang barat untuk mengahncurkan eksistensi nilai-nilai budaya bang sa yang lebih mencerminkan moral dan akhlak dari kalangan umat Islam.
Sebagai generasi muda yang menjunjung tinggi nilai-nilai budaya Islam, kita harus mengintemalisasi perayaan Valentine’s Day dalam segala aspek kehi dupan. Jika kita sudah mampu menyadari dan merefleksikan dalam pikiran yang jemih, maka lang kah yang paling signifikan adalah dengan menjauhi budaya Valentine’s Day dengan kembali kepada khittah yang sebenamya, yaitu nilai-nilai universal yang terkandung dalam ajaran agama Islam. Dengan begitu. Valentine’s Day bagi kalangan rema ja tidak menjadi agung dan mulia di mata mereka. Karenajelas-jelas bentuk aplikasi perayaannya kontradiksi dengan budaya bangsa Indonesia lebih-lebih aturan agama.
Wallahu a’lam bisshawab.